Selasa, 08 September 2009

Partai Nasional Indonesia

PNI atau Partai Nasional Indonesia adalah partai politik tertua di Indonesia. Partai ini didirikan pada tanggal 4 Juli 1927 di Bandung yang diketuai oleh Ir. Soekarno, sedangkan sekretaris sekaligus bendahara dijabat oleh Mr. Iskaq Tjokrohadisuryo. Awalnya Partai Nasional Indonesia didirikan dengan nama Perserikatan Nasional Indonesia dengan ketuanya pada saat itu adalah Dr. Tjipto Mangunkusumo, Mr. Sartono, Mr. Iskaq Tjokrohadisuryo dan Mr. Sunaryo. Selain itu para pelajar yang tergabung dalam Algemeene Studie Club yang diketuai oleh Ir. Soekarno turut pula bergabung dengan partai ini.
Algemeene Studie Club, didirikan di Bandung pada tahun 1924 di bawah pimpinan Soekarno. Berlainan dengan Indonesische Studie Club di Surabaya, Algemeene Studie Club mengutamakan soal – soal politik dan bersikap non-kooperasi yang prinsipil. Mantan anggota – anggota Perhimpunan Indonesia yang bertempat tinggal di Bandung menjadi anggotanya. Sejak semula Algemeene Studie Club memelihara perhubungan dengan Perhimpunan Indonesia di negeri Belanda bersikap berlawanan terhadap penjajah. Algemeene Studi Club kemudian terlebur dalam Partai Nasional Indonesia yang juga diketuai oleh Soekarno.

Sesudah PKI dinyatakan sebagai partai terlarang oleh pemerintah Hindia Belanda akibat pemberontakannya tahun 1926-1927, maka dirasakan perlunya wadah untuk menyalurkan hasrat dan aspirasi rakyat yang tidak mungkin lagi ditampung oleh organisasi-organisasi politik yang ada pada waktu itu. Sejalan dengan hal tersebut muncul organisasi kebangsaan dengan corak politik nasionalis murni yaitu Partai Nasional Indonesia.
Dalam Azasnya PNI berkeyakinan, bahwa syarat yang amat penting untuk perbaikan kembali semua susunan pergaulan hidup Indonesia itu ialah kemerdekaan nasional. Oleh karena itu, maka semua kekuatan haruslah ditujukan ke arah kemerdekaan nasional. Dengan kemerdekaan nasional rakyat akan dapat memperbaiki rumah tangganya dengan tanpa gangguan.
PNI ingin sekali melihat rakyat Indonesia bisa mencapai kemerdekaan politik untuk mencapai pemerintahan nasional, mencapai hak untuk mengadakan Undang – Undang sendiri dan mengadakan aturan – aturan sendiri dalam mengadakan pemerintahan
Sedikit banyak pengaruh Perhimpunan Indonesia tampak dalam Partai Nasional Indonesia. Hal ini terlihat dalam anggaran dasar Partai Nasional Indonesia yang antara lain berbunyi : “Bekerja untuk Kemerdekaan Indonesia”. Penggunaan kata “Indonesia” sebagai kekuatan politis pada waktu itu sudah lazim digunakan oleh kalangan pergerakan nasional sebagai pengganti sebutan “Inlander” atau bumiputera yang berkonotasi merendahkan derajat.
Perjuangan Partai Nasional Indonesia bersifat anti penjajahan dan anti imperialisme. Sasaran pokok Partai Nasional Indonesia adalah mencapai kemerdekaan Indonesia dengan azas : Kekuatan Nasional, Kemauan Nasional, dan Perbuatan Nasional.
Para pimpinan Partai Nasional Indonesia menekankan bahwa untuk mencapai Indonesia merdeka perlu adanya persatuan bangsa. Cita - cita persatuan ini selalu ditekankan dalam rapat – rapat umum Partai Nasional Indonesia. Dalam perjuangannya, Partai Nasional Indonesia memperoleh keuntungan dari charisma Soekarno sebagai pemimpinnya sehingga organisasi itu dapat memasyarakatkan tujuannya, yaitu Indonesia yang merdeka.
Selain mengaktifkan rapat – rapat umum, Partai Nasional Indonesia juga menerbitkan surat kabar guna menyebarluaskan gagasan serta tujuan perjuangannya. Surat kabarnya ialah Banteng Priangan (terbit di Bandung) dan Persatoean Indonesia (terbit di Batavia). Melalui rapat – rapat, kursus – kursus, dan surat kabar sehingga gagasan perjuangan Partai Nasional Indonesia dengan cepat menarik massa. Hal ini sangat mencemaskan pemerintah colonial. Dalam pembukaan sidang Volksraad tanggal 15 Mei 1928, gubernur jenderal mengingatkan dan mengharapkan kesadaran rakyat Hindia terhadap ancaman nasionalisme ekstrim.
Pada tahun 1928 Perserikatan Nasional Indonesia berganti nama menjadi Partai Nasional Indonesia. Kehadiran PNI benar-benar jadi tantangan pemerintah Hindia Belanda karena organisasi ini benar-benar menunjukkan perlawanannya. Dari azaz maupun tujuannya, terlihat bahwa PNI merupakan organisasi politik yang ekstrim dan radikal yang tentu saja berlawanan dengan keinginan pemerintah Belanda. Oleh karena itu berkali-kali tokoh-tokohnya diperingatkan agar tidak melakukan kegiatan, terutama yang berhubungan dengan massa, seperti rapat-rapat umum. Mengapa rapat umum dilarang, karena biasanya rapat umum menarik ribuan massa untuk berkumpul. Walaupun demikian, semangat pantang menyerah tokoh PNI tetap berkobar, bahkan pada tanggal 17-18 Desember 1927, PNI berhasil memelopori terbentuknya organisasi sosial politik se Indonesia dalam bentuk Permufakatan perhimpunan-perhimpunan Politik Kebangsaan Indonesia, (PPPKI). Partai Nasional Indonesia dianggap membahayakan Belanda karena menyebarkan ajaran – ajaran pergerakan kemerdekaan sehingga Pemerintah Hindia Belanda mengeluarkan perintah penangkapan pada tanggal 24 Desember 1929. Penangkapan baru dilakukan pada tanggal 29 Desember 1929. Kegiatan-kegaitan yang dilakukan oleh tokoh PNI menyebabkan pemerintah Hindia Belanda kehilangan kesabaran sehingga melakukan 23 penangkapan terhadap tokoh-tokoh Partai Nasional Indonesia di Yogyakarta, seperti Ir. Soekarno, Maskun Sumadiredja, Supriadinata dan Gatot Mangkupradja.
Pengadilan para tokoh yang ditangkap ini dilakukan di Bandung pada tanggal 18 Agustus 1930 sampai dengan tanggal 29 September 1930. Setelah diadili di pengadilan Belanda, maka para tokoh ini dimasukkan dalam penjara Sukamiskin, Bandung. Dalam masa pengadilan ini Ir. Soekarno menulis pidato “Indonesia Menggugat” dan membacakannya di depan pengadilan sebagai gugatannya. Soekarno menandaskan bahwa “Revolusi Indonesia adalah revolusinya zaman sekarang, bukan revolusinya sekelompok – sekelompok kecil kaum intelektual, tetapi revolusinya bagian terbesar rakyat dunia yang terbelakang dan diperbodoh”. Akan tetapi, tidak seperti pengadilan Perhimpunan Indonesia sebelumnya, pengadilan colonial menjatuhkan hukuman penjara bagi para tokoh Partai Nasional Indonesia ini.
Pimpinan Partai Nasional Indonesia, Ir. Soekarno diganti oleh Mr. Sartono. Mr. Sartono kemudian membubarkan Partai Nasional Indonesia dan membentuk Partai Indonesia (Partindo) pada tanggal 25 April 1930. Moh. Hatta yang tidak setuju dengan pembentukan Partai Indonesia akhirnya membentuk Pendidikan Nasional Indonesia Baru yang ia dirikan bersama Sutan Syahrir. Ir. Soekarno bergabung dengan Partai Indonesia (Partindo) setelah dibebaskan pada bulan Desember 1931 yang mana partai tersebut didirikan atas ciptaan Mr. Sartono.
Akan tetapi, kebijakan yang sangat reaksioner dari gubernur jenderalyang baru, B.C. de Jonge (1931 – 1936), sangat membatasi ruang gerak partai – partai baru tersebut. Para pemimpin kedua partai ini pun akhirnya ditangkap dan dibuang ke luar Jawa.
Pada tahun 1933 Ir, Soekarno ditangkap dan dibuang ke Ende, Flores sampai dengan tahun 1942. Moh. Hatta dan Sutan Syahrir dibuang ke Bandaneira pada tahun 1934 sampai dengan tahun 1942. Tahun1955 Partai Nasional Indonesia memenangkan Pemilihan Umum (Pemilu) 1955. Di pimpin oleh Supeni mantan Duta Besar keliling Indonesia. Partai Nasional Indonesia mengikuti pemilihan umum pasca runtuhnya kekuasaan Presiden Soeharto. Setelah kongres Nasional pada tanggal 6 Juli 2000, Partai Nasional Indonesia berubah nama menjadi Partai Nasional Indonesia Maehaenisme dan diketuai oleh Sukmawati Soekarno Putri, anak dari Soekarno.

PNI Marhaenisme

Partai Nasional Indonesia Marhaenisme (PNI Marhaenisme), sebelumnya bernama Partai Nasional Indonesia – Supeni (PNI Supeni), adalah salah satu partai politik di Indonesia. Partai Nasional Indonesia dihidupkan kembali dan mengikuti Pemilu 1999 dengan nama Partai Nasional Indonesia Soepeni. Partai Nasional Indonesia Soepeni memperoleh 0, 36 persen suara nasional.
Sesuai dengan Undang – Undang No. 31 Tahun 2002, maka Partai Nasional Indonesia Soepeni tidak diperbolehkan megikuti Pemilu 2004. Oleh karena itu partai ini memakai nama baru yaitu Partai Nasional Indonesia Marhaenisme (PNI Maehaenisme) dan mendaftarkan diri untuk mengikuti Pemilu 2004 dan berhasil lolos dari verifikasi serta memenuhi persyaratan yang ditentukan.
Nasionalisme merupakan ciri penting yang membedakan Partai Nasional Indonesia (PNI) di bawah pimpinan Supeni dengan partai bernama Partai NAsional Indonesia lainnya yang lebih menekankan marhaenisme. Sebelum dideklarasikan sebagai partai politik, Partai Nasional Indonesia Supeni ini berbentuk ormas yang bernama PAersatuan Nasional Indonesia. Pendirian PNI sebagai ormas tahun 1995 tersebut merupakan reaksi para tokoh eks-PNI (sebelum fusi 1973) terhadap penyelewengan Undang – Undang Dasar 1945 dan Pancasila yang menurut PNI telah dilakukan oleh Pemerintah Orde Baru.
Partai Nasional Indonesia di bawah pimpinan Supeni ingin sungguh – sungguh menegakkan Negara kesatuan Republik Indonesia. Karenanya partai ini menolak bicara soal Negara federasi, dan berusaha mencegah adanya disintegrasi. Di bidang hukum Partai Nasional Indonesia menghendaki system pengadilan yang betul – betul menggambarkan adanya Negara hukum dan bukan Negara kekuasaan. Sebagau partai rakyat, Partai Nasional Indonesia ingin membela rakyat di depan hukum, bahwa rakyai itu di depan hukum sama.
Dalam pelaksanaannya, Partai Nasional Indonesia Marhaenisme berasazkan Pancasila. Didirikan di Jakarta pada tanggal 26 Oktober 1995 dan dideklarasikan pada tanggal 20 Mei 1998 di Jakarta. Dengan alamat Jalan Cempaka Putih Tengah II/25 Jakarta Pusat, dan telepon (021) 42877063. Partai ini memiliki ketua umum yaitu Supeni, sedangkan sekretaris jenderal dijabat oleh I Made Sunarkha.

Seks’s Education On Adolescent


Sexual education is a way of teaching or education can help young mudi-life problems to come on the encouragement of sexual abuse. Dengan demikian pendidikan seksual ini bermaksud untuk menerangkan segala hal yang berhubungan dengan seks dan seksualitas dalam bentuk yang wajar. Thus sexual education is intended to explain all things related to sex and sexuality in the form of a natural. Menurut Singgih, D.
Seks's education used to mean as lighting about seks's physiology anatomy man, venereal disease danger, etc. There is education even seks who will be worded in here is that seks's savvy someone can understand about mean, function and to the effect seks, so it can channel its one good manners, really, and legal, "said Drs. Bastian (The teacher of Senior High School number one in Padang Panjang). Seks's education divides stripling to constitute preventif's action and gives robustness self that they heavy duty to crime and sexual abuse," said Zarfiel Tafal, Director Executor PKBI (Indonesian family planning congregation), Thursday (4 / 9) noon.
Seks's education according to Arif Rahman Hakim is conduct process to be aware and systematics at schooled, family and society to pass on process sexualing to terminological religion and already been established by society. According to Dr. Abdullah Nashih Ulwan, education seks is teaching effort and lighting about sexual problem that given unto by child since it understands problems that berkenaan with seks, instinct, and marriage. With so, if child was mature, it will get to know problem that is prohibitted and is allowed; even can apply islami's behaviour and won't accomplish its sexual instinct by that don't islami.
According to Sarlito in its book Adolescent Psychology (1994), in common sexual education is an information hit seksualitas's problem clear and right man, one that cover its happening process impregnation, pregnancy until natal, sexual behaviour, sexual relationship, and health aspects, psychological and sociological. Sexual education problem that is given deservedly gets bearing with prevailing norm at society, what do be prohibitted, what does prevalent and how do it without breach prevailing order at society. According to Singgih, D. Gunarsa, forwarding sexual education material this necessarily been given after-glow while child was beginning asks about genital difference among her and others, continual and gets phase, adjusted by requirement and child and energy age catches child( in practical Psychology, child, stripling and family, 1991).
The purpose of sex education as follow :
Provide an adequate understanding of the changes in physical, mental and emotional maturity process that are associated with sexual problems in adolescence.
Provide knowledge about the errors and irregularities that sexual individuals can maintain themselves, and against the exploitation that can disrupt the health and physical their mental.
To reduce prostitution, fear of sexual exploration is not rational and excessive sex.
Provide understanding and condition that the individual can do to make this sexual activity an effective and creative in many different roles.

Two factor why sex education really necessary for stripling. First factor is whereabouts growing children become stripling, they have seen by sex education. Second factor, from misunderstanding stripling about seks and anatomy health reproduces them, at societies social environment, other thing is on the market just one bounds of commodity, as media that present things that gets porn character.

The reason thet point towards sex education for the teens are :
Adequate guidance would always help prevent teenage pregnancies.
Besides teenage pregnancies being a health hazard, adolescents are mentally unprepared to handle pregnancy, childbirth, and parenthood.
Sex education will help teenagers appreciate the negative impact of teenage pregnancy on their education, and consequently on yheir future, so that they would take necessary steps to avoid it.

Some important issues in providing sexual education, as described by Singgih D Gunarsa (1995) the following perhaps you should note :
Should disclose how fair and simple, do not look in doubt, or shame.
The contents of the briefing should be presented objectively, but do not explain the not-not, seems to be aimed at children will not ask again
Shallow or visceral its description content shall be adjusted by requirement and with childs formative phase.
Flake-Hobson (Joice, 1996) states that sex education in schools should be teaching, among others, include:
Allowing children to participate in accordance with the expression of sex in them, their personality and their interaction with friends in class.
Invite students to discuss on matters related to decorum of the type of opponent.
Introduce students to the development of sex roles. Misalnya seorang perempuan akan menjadi siswa yang berstatus ibu rumah tangga atau isteri. For example, a woman will be the students who are housewives or wives.
Providing tools audio visual (sight of - red) on the development of sex roles to the students and invite them to discuss.
Introduce students to a variety of sex roles between men and women.

The best educators are the parents of the child itself. Education provided is included in sexual education. In discussing sexual issues is that is very personal and requires a familiar atmosphere, is open from heart to heart between parents and children.
In providing sex education to the children do not wait until children ask about sex. Sebaiknya pendidikan seks diberikan dengan terencana, sesuai dengan keadaan dan kebutuhan anak. Sex education should be provided with planned, according to the circumstances and needs of children. Sebaiknya pada saat anak menjelang remaja dimana proses kematangan baik fisik, maupun mentalnya mulai timbul dan berkembang kearah kedewasaan. We suggest that at the time of the adolescent children where both the physical maturity, and their mental nascent and growing towards maturity.


Tokoh Keroncong

Waldjinah

Waldjinah (lahir di
Solo, Jawa Tengah, 7 November 1945; umur 63 tahun) adalah seorang penyanyi keroncong - Jawa yang dikenal dengan julukan "Ratu keroncong", dan menjadi juara I Bintang Radio Indonesia tahun 1965. Di antara albumnya, Waldjinah pernah berduet dengan si "Buaya Keroncong" dari kota Surabaya yaitu cak Mus Mulyadi. Lagu Walang Kekek adalah yang melambungkan namanya di Indonesia disamping juga lagu Jangkrik Genggong. Walang Kekek diputar di radio-radio dan dinyanyikan orang dimana-mana. Suaranya yang dikenal merdu dan sering melantunkan lagu-lagu ciptaan Gesang, Andjar Ani, dan Ismail Marzuki.
Dalam beberapa kesempatan, perempuan yang kerap tampil sebagai sinden mendampingi cerita wayang itu, membawakan lagu ciptaan Gesang dan Ismail Marzuki. Dan tercatat pernah berduet dengan Chrisye (alm) lewat lagu ciptaan Guruh Soekarno Putra lewat lagu Kala Cinta Menggoda.
Banyak diantara albumnya dibuat dengan iringan Orkes Keroncong Bintang Surakarta yang dipimpinnya sendiri. Waldjinah juga tidak selalu membuat album sendiri, tapi pernah juga membuat album "kompilasi" bersama penyanyi lain, misalnya album Elingo Beboyo Margo (sekitar 1968) yang diisi bersama Enny Koesrini (juara Harapan Bintang Radio Indonesia 1967) dan Sri Rahadjeng.
Di Tahun 2002 Waldjinah menerima anugrah seni dari yayasan musik
Hanjaringrat di Solo dengan komponis Gesang dan para seniman yang lainnya.
Lagu populer Waldjinah di antaranya Yen Ing Tawang, Bengawan Solo, Walang Kekek, Ande-Ande lumut, Rudjak Ulek, Suwe Ora Jamu dan lain sebagainya
Karena dilahirkan di bulan Sawal (Wal) pada tahun Je (Ji) dan sebagai anak nomor sejinah (10) maka diberikanlah kepadanya nama Waljinah. Memang belum tua, meskipun sehari-hari memakai kebaya. Kata orang, dia telah melancarkan semacam revolusi keroncong secara resmi. Mengangkat apa yang biasanya ngubek dalam suara gamelan ke dalam kancah keroncong. “kalau digending,”tuturnya, “Penyanyi Kembang Kacang harus mengikuti betul aturannya. Rasanya kaku. Beda bila di keroncong. Penyanyi bisa menggarapnya dengan luwes, cengkoknya pun bisa mapan”.” lagunya yang terkenal adalah Walang Kekek, dinyanyikan secara menyesuaikan diri dengan kegemaran masyarakat tanpa mengurangi mutunya. Kini ia memimpin orkes keroncong langgam Jawa Bintang Surakarta dan band Mustang.
Pernah jadi juara Ratu Kembang Kacang di tahun 1958 dan Bintang Radio se-Indonesia jenis keroncong tahun 1965. Namanya melambung sampai ke Suriname di tahun 1972. Bahkan di Suriname ia sempat melatih. Waldjinah rupanya lebih menyukai keroncong tanpa alat-alat listrik. Terakhir dia bermain di panggung ketoprak sejak 1978.
Ketrampilan menari tidak dituntut dalam seni ketoprak, walaupun ia pintar menari sejak kecil, atas bimbingan almarhum ayahnya Wiryoharjo. Di juluki si Walang kekek, kadang ia menyanyi dangdut juga, kadang menyanyi dalam bahasa Sunda. Rekaman terakhirnya antara lain Warung Pojok, Gethuk Lindri, Othok-othok Unine Tekek, Tukang Pijet dan Tetanen.
Ia telah menyanyikan ratusan lagu, selama lebih dari 20 tahun sebagai penyanyi. Dan pernah pula beroleh kesempatan bermain dalam film Buah Bibir di tahun 1972. Tapi dunia film tidak berhasil memikat dirinya. Di Surakarta ia punya kesibukan lainnya yakni mengusahakan salon kecantikan dan rias pengantin. Dia mengatakan hanya minum beras kencur secara ajeg untuk memelihara kejernihan suaranya.

Biografi Tokoh Keroncong

Gesang Martohartono



Gesang Martohartono atau kerap disebut dengan Gesang saja, lahir di Kota Surakarta, Jawa Tengah, 1 Oktober 1917. Ia adalah seorang penyanyi dan pencipta lagu Jawa yang telah dikenal sebagai “maestro keroncong Indonesia”.
Gesang terkenal lewat lagu ciptaannya, Bengawan Solo yang kemudian mengantarkan dirinya berkeliling Asia, terutama di Indonesia dan Jepang. Lagu “Bengawan Solo” ciptaannya telah diterjemahkan kedalam, setidaknya, 13 bahasa (termasuk
bahasa Inggris, bahasa Cina, dan bahasa Jepang)
Lagu Gesang yang lain di antaranya Pamitan, Caping Gunung, Jembatan Merah, Saputangan, Si Piatu, Roda Dunia, Dunia Berdamai, Tirtonadi, Pemuda Dewasa, Luntur, Bumi Emas Tanah Airku, Dongengan, Sebelum Aku Mati dan Aja Lamis. Kesemuan lagu tersebut telah di aransemen ke berbagai jenis irama. Gesang yang pernah diundang pada festival salju Sapporo atas undangan himpunan persahabatan Sapporo dengan Indonesia pada 1980 itu, juga telah merekam lagu-lagunya dalam bentuk Compact Disk, masing-masing adalah Seto Ohashi (1988), Tembok Besar (1963), Borobudur (1965), Urung (1970), Pandanwangi (1949) dan Swasana Desa (1939)
Saat ini Gesang tinggal di Jalan Gatot Subroto bersama keponakan dan keluarganya, setelah sebelumnya tinggal di rumahnya Perumnas Palur pemberian Walikota Surakarta tahun 1984 selama 20 tahun. Ia telah berpisah dengan istrinya tahun 1962. Selepasnya, memilih untuk hidup sendiri. Ia tak mempunyai anak. Pada tanggal 1 Oktober 2008 telah berusia 92 tahun.
Gesang pada awalnya bukanlah seorang
pencipta lagu. Dulu, ia hanya seorang penyanyi lagu-lagu keroncong untuk acara dan pesta kecil-kecilan saja di kota Solo. Ia juga pernah menciptakan beberapa lagu, seperti; Keroncong Roda Dunia, Keroncong si Piatu, dan Sapu Tangan, pada masa Perang Dunia II. Sayangnya ketiga lagu ini kurang mendapat sambutan dari masyarakat.
Sebagai bentuk penghargaan atas jasanya terhadap perkembangan musik
keroncong, pada tahun 1983 Jepang mendirikan Taman Gesang di dekat Bengawan Solo. Pengelolaan taman ini didanai oleh Dana Gesang, sebuah lembaga yang didirikan untuk Gesang di Jepang.
Gesang kini sudah tidak mencipta lagi. Ia juga tidak mewariskan keahlian mencipta musik keroncong pada siapa pun. Ia mengaku tidak punya punya murid karena ia juga bukan guru. Bahkan kalau ada guru, ia pun mengaku masih akan tetap berstatus murid. Gesang menyerahkan sepenuhnya perkembangan musik keroncong selanjutnya ke generasi muda.
Tahun 1941, setelah menciptakan lagu Saputangan dan putus cinta dengan si pemilik saputangan, Gesang lalu menikah dengan seorang gadis pengagumnya. Setelah menikah selama 20 tahun dan tidak dikaruniai seorang anak pun, pasangan ini memutuskan untuk bercerai pada tahun 1961 dan setelah itu Gesang tak pernah menikah lagi.
Saputangan menjadi ciptaan yang mempunyai arti tersendiri karena lagu tersebut ia ciptakan berdasar pengalaman pribadi yang sulit dilupakan. Menurut penuturannya, saputangan dari kekasih yang menjadi ilham lagu tersebut masih tersimpan dengan baik hingga kini, namun Gesang tak pernah memperlihatkannya kepada siapa pun.
Salah satu bagian terpenting dalam hidup Gesang adalah ketika bergabung dengan Orkes Keroncong (OK) Kembang Kacang sebagai penyanyi. Di Orkes yang dipimpin oleh mendiang Supinah inilah bakat Gesang sebagai penyanyi dan pencipta lagu berkembang. Ia selalu meminta pemain OK Kembang Kacang untuk memainkan setiap lagu baru yang ia ciptakan. Gesang mengaku tak menguasai teori musik.
Salah satu ciri yang ada pada diri Gesang sejak muda adalah kesetiannya terhadap seni. Kesetiaan pada seni itulah yang juga menyebabkan ia harus berpisah dengan istri karena selama berumah tangga Gesang selalu berpindah-pindah tempat tinggal, dari satu kota pementasan ke kota pementasan lainnya. Selain kesetiaan pada seni, satu ciri lain yang menonjol pada Gesang adalah kesederhanaan pribadinya. Ia jauh dari impian yang muluk-muluk. Ia menerima seperti apa adanya semua yang menghampiri hidupnya.


Kamis, 11 Juni 2009

Pergolakan Andi Aziz

PERJUANGAN MENGHADAPI
PERGOLAKAN DALAM NEGERI
“Peristiwa Andi Aziz di Makassar”



Andi Azis adalah seorang mantan Letnan KNIL dan sudah masuk TNI dengan pangkat Kapten, dia ikut berontak bahkan memimpinnya. Dia memiliki riwayat yang sama uniknya dengan petualang KNIL lainnya seperti Westerling. Andi Aziz memiliki cerita hidupnya sendiri. Cerita hidupnya sebelum berontak jauh berbeda dengan orang – orang Sulawesi Selatan pada umumnya. Tidak heran bila Andi Azis menjalanani pekerjaan yang jauh berbeda seperti orang-orang Sulawesi Selatan pada umumnya, sebagai serdadu KNIL. Bisa dipastikan Andi Azis adalah salah satu dari sedikit orang Bugis yang menjadi serdadu KNIL. Bukan tidak mungkin bila Andi Azis adalah orang Bugis dengan pangkat tertinggi dalam KNIL.


Usai Penyerahan Kedaulatan (Souvereniteit Overdracht) pada tanggal 27 Desember 1949, dalam negeri Republik Indonesia Serikat mulai bergelora. Serpihan ledakan bom waktu peninggalan Belanda mulai menunjukkan akibatnya. Pada umumnya serpihan tersebut mengisyaratkan tiga hal. Pertama, ketakutan antek tentara Belanda yang tergabung dalam KNIL, yang bertanya-tanya akan bagaimana nasib mereka setelah penyerahan kedaulatan tersebut. Kedua, terperangkapnya para pimpinan tentara yang jumlahnya cukup banyak dalam penentuan sikap dan ideologi mereka. Utamanya para pimpinan militer didikan dan binaan Belanda. Terakhir, masih banyaknya terjadi dualisme kepemimpinan dalam kelompok ketentaraan Indonesia antara kelompok APRIS dengan kelompok pejuang gerilya. Walaupun sejak bulan Juni 1947 Pemerintah RI telah mengeluarkan kebijaksanaan bahwa segenap badan kelaskaran baik yang tergabung dalam biro perjuangan maupun yang lepas berada dalam satu wadah dan satu komando yaitu Tentara Nasional Indonesia (TNI). Ketiga hal tersebut semakin mengental pada daerah yang masih kuat pengaruh “Belandanya”. Salah satu daerah dimaksud adalah wilayah Sulawesi Selatan. Tiga peristiwa di tahun 50 yang terjadi dikota Makassar dan wilayah Sulawesi Selatan memperlihatkan kekentalan tersebut. Peristiwa pertama terjadi pada tanggal 5 April 1950 yang terkenal sebagai peristiwa Andi Azis. Peristiwa kedua yang terjadi pada tanggal 15 Mei 1950 dan ketiga yang terjadi pada tanggal 5 Agustus 1950. Dalam ketiga peristiwa tersebut yang menjadi penyebabnya selalu permasalahan mengenai kegamangan tentara KNIL akan nasib mereka. Sedangkan 2 peristiwa terakhir menjadi tolak ukur dari kegamangan tersebut. Menteri Pertahanan RIS, Sri Sultan Hamengkubuwono IX dalam pertemuan pers mengatakan bahwa tidak heran dengan terjadinya peristiwa paling akhir pada tanggal 5 Agustus 1950 (Sin Po 8/8/50). Rentetan ketiga peristiwa di Makassar tersebut agaknya selalu bermula dari upaya-upaya para anggota KNIL (kemudian dilebur dalam KL) untuk mengacaukan kehidupan rakyat di Makassar sekaligus berupaya untuk memancing tentara APRIS memulai serangan kepada mereka. Tidak kalah ikut menentukan suasana panas dikota Makassar adalah persoalan tuntutan masyarakat untuk segera menuju negara kesatuan. Tentu saja gerakan rakyat ini tidak saja terjadi di Indonesia Timur, tapi juga di Jawa Timur, Pasundan, Sumatera Timur dan berbagai daerah lainnya. Pemerintah RIS dalam hal ini atau setidaknya banyak pihak dalam kabinet dan Parlemen sangat memberi angin menuju Negara Kesatuan. Rencana kedatangan tentara APRIS ke Makassar nampaknya terlalu dibesar-besarkan semata-mata karena rasa takut akan menguntungkan pihak pemerintah pusat (RIS). Oleh karena itu bukan tidak mungkin pemberontakan Andi Aziz adalah rekayasa politik pihak KNIL akibat provokasi tokoh-tokoh anti RIS dalam pemerintahan Negara Indonesia Timur. Andi Aziz diyakini oleh banyak pihak adalah seorang anggota militer dengan pribadi yang baik. Namun dalam skala kesatuan militer KNIL di Sulawesi Selatan dirinya lebih condong sebagai boneka. Tampak bahwa Kolonel Schotborg dan jakasa agung NIT Sumokil adalah pengendali utama kekuatan KNIL dikota Makassar.


Nama lengkapnya adalah Andi Abdoel Aziz, ia terlahir dari pasangan Andi Djuanna Daeng Maliungan dan Becce Pesse. Anak tertua dari 11 bersaudara. Ia menyandang gelar pemberontak akibat perjuangannya untuk mempertahankan existensi Negara Indonesia Timur. Ia mengambil alih kekuasaan militer di Makassar pada 5 April 1950 ketika umurnya baru 24 tahun. Ia adalah korban politik Belanda divide et impera, di pengadilan militer ia mengakui menyesal bahwa ia buta politik. Sejak umur 10 tahun, Andi Aziz sudah dikirim oleh orang tuanya ke negeri Belanda untuk sekolah dan menyelesaikan sekolah lanjutannya disana.


Tahun 1939-1940 pecah Perang Dunia ke 2. Belanda kena getahnya akibat serangan oleh Jerman. Andi Aziz bersama dengan rekan rekan sekolahnya turut ikut berjuang bergerak di bawah tanah melawan Jerman. Pada saat itu kedudukan Andi Aziz cukup terdesak sehingga ia memutuskan untuk hijrah ke Inggris. Karena Inggris adalah sekutu Belanda maka hal ini sangat mempermudah ruang geraknya. Disana ia dididik oleh Inggris di akademi militer. Ia adalah kawan sebangku Jendral Moshe Dayan mantan Menteri Pertahanan Israel dan juga Raja Hussein dari Yordania. Ia tamat pendidikan para-militer payung pada tahun 1943 dengan pangkat Letnan muda dan bertugas di Inggris.


Pada akhir tahun 1943 ia meminta kepada Inggris untuk diterjunkan di Belanda dan membantu melawan Jerman. Niat sebetulnya adalah untuk mengunjungi Ayah angkatnya yang berada di Belanda waktu itu, yang mana adalah juga seorang pejabat tinggi Belanda di Pare Pare, Sulawesi Selatan. Pada tahun 1944 ia kembali ke Inggris setelah sempat membantu Belanda melawan Jerman. Sebagai tentara Inggris ia di kirim ke Calcutta, India yang mana adalah salah satu Negara jajahan Inggris. Disana ia mengikuti latihan perang di dalam hutan, setelah 3 bulan mengikuti latihan perang gerilya ia kemudian dikirim oleh Inggris ke Singapura pada tahun 1945 untuk melawan Jepang. Belum sempat melawan Jepang ternyata Negara matahari terbit itu sudah bertekuk lutut pada 15 Agustus 1945. Selama di Singapura itulah ia mendengar nama Soekarno dan Hatta yang mana keduanya memproklamirkan kemerdekaan Indonesia. Nama Indonesia belum pernah di dengar oleh Andi Aziz sebelumnya. Sejak saat itulah timbul rasa kerinduannya untuk kembali ke tanah air Sulawesi Selatan.


Kepada komandannya di Singapura ia mengajukan permohonan pengunduran dirinya dari dinas militer Inggris. Tetapi keinginannya tersebut ditolak oleh komandannya dan ia diharuskan untuk menghadap langsung kepada petinggi petinggi angkatan perang Inggris di London mengenai pengunduran dirinya. Di Singapura ia sempat dipertemukan dengan Panglima Belanda oleh sahabat – sahabatnya tentara Belanda. Kerinduan akan kampung halamannya membuat ia berdusta dan mengaku kepada Panglima Belanda di Singapura bahwa ia telah keluar dari angkatan perang Inggris. Ia mengajukan keinginannya untuk bergabung di militer Belanda, maklumlah karena sistem kemiliteran pada waktu itu masih kurang ketat terlebih karena keadaan perang maka Belanda tidak mengecek keabsahan pengakuannya dan ia diterima kembali aktif di angkatan perang Belanda atau KNIL. Tetapi setelah ia di terjunkan di Plaju, Sumatera Selatan ia melarikan diri dan masuk kembali ke Singapura secara diam – diam untuk menumpang kapal laut menuju ke Makassar. Pada tahun 1946 ia tiba di Makassar dan menyamar sebagai terntara Inggris. Sebetulnya NICA sedang mencari – cari keberadaan Andi Aziz yang desersi tersebut untuk diadilkan di pengadilan militer. Tetapi kembali mengingat keadaan yang simpang siur dan kacau maka NICA tidak berhasil membawa Andi Aziz untuk di adili. Pada tahun yang sama ia diterima bekerja di kepolisian atas dasar pendidikan militer dan pengalaman perang gerilyanya yang bagus.


Ketika Negara Indonesia Timur di bentuk ia di angkat sebagai adjudan Presiden Sukawati dan pangkatnya di kembalikan menjadi Letnan Dua KNIL. Pada tahun 1947 ia dikirim ke Bandung untuk menjadi instruktur pendidikan militer disana dan kembali ke Makassar pada tahun 1948. Sekembalinya di Makassar ia di angkat menjadi Komandan Divisi 7 Desember, anak buahnya adalah asli orang Belanda. Menjelang penyerahan kedaulatan pada tahun 1949 ia dipercayai untuk membentuk satu kompi pasukan KNIL dan memilih langsung anak buahnya yang mana berasal dari Toraja, Sunda dan Ambon. Kompi inilah yang kemudian di resmikan oleh Panglima Teritorial Indonesia Timur, Letnan Kolonel Akhmad Junus Mokoginta dan dilebur menjadi bagian dari APRIS (Angkatan Perang Republik Indonesia Serikat). Pada tanggal 5 April 1950 kompi ini jugalah yang diandalkan Andi Aziz untuk melakukan pemberontakan.


Latar belakang timbulnya pemberontakan Andi Aziz adalah sebagai berikut :
Timbulnya pertentangan pendapat mengenai peleburan Negara bagian Indonesia Timur (NIT) ke dalam negara RI. Ada pihak yang tetap menginginkan NIT tetap dipertahankan dan tetap merupakan bagian dari wilayah Republik Indonesia Serikat (RIS), sedangkan di satu pihak lagi menginginkan NIT melebur ke negara Republik Indonesia yang berkedudukan di Yogyakarta.
Ada perasaan curiga di kalangan bekas anggota – anggota KNIL yang disalurkan ke dalam Angkatan Perang Republik Indonesia Setikat (APRIS)/TNI. Anggota – anggota KNIL beranggapan bahwa pemerintah akan menganaktirikannya, sedangkan pada pihak TNI sendiri ada semacam kecanggungan untuk bekerja sama dengan bekas lawan mereka selama perang kemerdekaan.


Kedua hal tersebut mendorong lahirnya pemberontakan bersenjata yang dipimpin oleh bekas tentara KNIL, Andi Aziz, pada tanggal 5 April 1950. Padahal sebelumnya, pemerintah telah mengangkat Andi Aziz menjadi Kapten dalam suatu acara pelantikan penerimaan bekas anggota KNIL ke dalam tubuh APRIS pada tanggal 30 Maret 1950. Namun, karena Kapten Andi Aziz termakan hasutan Mr. Dr. Soumokil yang menginginkan tetap dipertahankannya Negara Indonesia Timur (NIT), akhirnya ia mengerahkan anak buahnya untuk menyerag Markas Panglima Territorium. Ia bersama anak buahnya melucuti senjata TNI yang menjaga daerah tersebut. Di samping itu, Kapten Andi Abdul Aziz berusaha menghalang – halangi pendaratan pasukan TNI ke Makassar karena dianggapnya bahwa tanggung jawab Makassar harus berada di tangan bekas tentara KNIL.
Adapun faktor yang menyebabkan pemberontakan adalah :
Menuntut agar pasukan bekas KNIL saja yang bertanggung jawab atas keamanan di Negara Indonesia Timur
Menentang masuknya pasukan APRIS dari TNI.
Mempertahankan tetap berdirinya Negara Indonesia Timur.



Sebetulnya pemberontakan Kapten Andi Aziz adalah dikarenakan hasutan Dr. Soumokil Menteri Kehakiman Indonesia Timur. Tokoh ini jugalah yang memprakarsai adanya pemberontakan Republik Maluku Selatan. Kapten Andi Aziz mempunyai pertimbangan lain. Ia khawatir akan tindakan membabi buta dari Dr. Soumokil yang dapat mengakibatkan pertumpahan darah diantara saudara sebangsa. Atas dasar pertimbangan untuk menghindari pertumpahan darah tersebutlah ia bersedia memimpin pemberontakan. Ia merasa sanggup memimpin anak buahnya tanpa harus merenggut korban jiwa. Ternyata memang pemberontakan yang di pimpin olehnya berjalan sesuai dengan lancar dan tanpa merenggut korban jiwa. Hanya dalam waktu kurang lebih 30 menit semua perwira Tentara Nasional Indonesia dapat ia tahan dan Makassar dikuasainya.



Dengan anggapan sudah merasa kuat pada tanggal 5 April 1950, setelah menangkap dan menawan Letnan kolonel Mokoginta, Panglima Territorium Sulawesi, Kapten Andi Aziz mengeluarkan pernyataan yang ditujukan kepada pemerintah pusat di Jakarta. Adapun isi pernyataan itu adalah sebagai berikut :
Negara Indonesia Timur harus tetap dipertahankan agar tetap berdiri menjadi bagian dari RIS
Tanggung jawab keselamatan daerah NIT agar diserahkan kepada pasukan KNIL yang telah masuk menjadi anggota APRIS. TNI yang bukan berasal dari KNIL tidak perlu turut campur
Presiden Soekarno dan Perdana Menteri Hatta supaya tidak mengizinkan NIT dibubarkan dan bersatu dengan Republik Indonesia.



Tentu saja pernyataan Andi Aziz ini merupakan tamparan bagi pemerintah RIS. Untuk mempertanggungjawabkannya, Perdana Menteri RIS memanggil Kapten Andi Aziz agar menghadap ke Jakarta. Namun, panggilan pemerintah pusat itu tidak dihiraukan sama sekali oleh Kapten Andi Aziz itu sehingga Perdana Menteri RIS mengeluarkan ultimatum yang menyatakan bahwa dalam tempo 4 x 24 jam terhitung dari tanggal 8 April 1950, Kapten Andi Aziz harus sudah tiba menghadap ke Jakarta. Apabila ultimatum itu tidak diindahkan maka Presiden selaku Panglima Tertinggi Angkatan Perang Republik Indonesia Serikat akan menindak Kapten Andi Aziz. Selain itu, pemerintah pusat telah pula mengeluarkan perintah kepada Kapten Andi Aziz untuk :
Mengkoordinasikan pasukannya agar tidak liar
Melepaskan semua tawanan anggota TNI
Menyerahkan kembali persenjataan yang telah dirampasnya.



Mendengar ultimatum itu, Kapten Andi Aziz menyatakan kesediaannya untuk datang menghadap pada tanggal 13 April 1950. Akan tetapi, kesanggupan Kapten Andi Abdul Aziz ternyata tidak dipenuhi. Karena waktu itu Andi Aziz menganggap keadaan atau situasi di kota Makassar masih belum stabil karena masih ada pergerakan disana sini di dalam kota Makassar. Setelah ia merasa Makassar telah aman maka semua tawanannya termasuk Letnan Kolonel Akhmad Junus Mokoginta dilepaskannya. Oleh karena pemerintah telah memberikan kesempatan kepadanya dan kemurahan hati maka ketidakhadiran Andi Aziz ini dianggap sebagai pemberontakan terhadap pemerintah yang sah. Presiden memberikan amanat pada pidato radio yang menyatakan bahwa sejak tanggal 5 April 1950 Kapten Andi Aziz dinyatakan sebagai pemberontak dan daerah Makassar atau Indonesia Timur akan segera dibebaskan dari cengkraman pemberontak tersebut.



Setelah adanya pernyataan Andi Aziz sebagai pemberontak oleh Presiden maka Sri Sultan Hamengkubuwono selaku Menteri Pertahanan Keamanan RIS mengeluarkan perintah harian, yang berbunyi sebagai berikut :
Angkatan Perang Republik Indonesia Serikat menerima baik perintah Presiden RIS untuk menyelesaikan pemberontakan Andi Aziz di Makassar
Perintah tersebut akan segera dilaksankan.



Untuk menyelesaikan pemberontakan Andi Aziz maka dibentuklah sebuah pasukan ekspedisi yang dipimpin oleh Kolonel Alex E Kawilarang sebagai Panglima Operasinya. Untuk mendukung kelancaran operasi tersebut, dikirimkan pasukan ke NIT dengan kekuatan tiga Brigade dan satu Batalyon. Pasukan terdiri dari satu Brigade dari Divisi I Jawa Timur, satu Brigade Divisi III Jawa Tengah, satu Brigade dari Divisi IV Jawa Barat dan satu Batalyon dari Jawa Timur. Dari Jawa Tengah dikirim Brigade 10/Mataram Divisi III Diponegoro dibawah pimpinan Letnan Kolonel Soeharto. Kedua Batalyon yang dipersiapkan oleh Brigade 10/Mataram adalah batalyon Kresno dipimpin Mayor Daryatmo dan Batalyon Seno dipimpin Mayor Sujono. Dan pada tanggal 26 April 1950 pasukan expidisi telah mendarat di Sulawesi Selatan.



Andi Aziz diundang kembali oleh Presiden Soekarno untuk datang menghadap di Jakarta. Ia ditemani oleh pamannya yaitu Andi Patoppoi, lalu seorang Menteri Dalam Negeri Negara Indonesia Timur yaitu Anak Agung Gde Adung serta seorang wakil dari Komisi Tiga Negara. Ternyata undangan tersebut hanyalah jebakan Presiden Soekarno, sesampainya ia di pelabuhan udara kemayooran ia langsung ditangkap oleh Polisi Militer untuk dibawa ke pangadilan. Ia kemudian di tahan dan di adili di pengadilan Wirogunan Yogyakarta. Oleh pengadilan ia dijatuhi hukuman penjara 14 tahun, tetapi hanya delapan tahun saja yang ia jalani.



Walaupun demikian, penyelesaian masalah pemberontakan Andi Aziz ini belum dianggap selesai karena banyak anggota KNIL yang ditinggalkan oleh Kapten Andi Aziz melakukan teror terhadap rakyat. Pemberontakan berjalan terus yang dilancarkan oleh pasukan KNIL dan KL di Makasar. Pasukan KNIL selalu memancing ‑ mancing keadaan agar pasukan APRIS memulai serangan. Semula APRIS bersikap, tenang dan tidak termakan oleh pancingan fihak KNIL, namun setelah KNIL menyerang pos ‑ pos APRIS maka hilanglah kesabarannya dan membalas serangan tersebut sehingga pertempuran tidak dapat dielakkan lagi. Pada tanggal 6 Agustus 1950, APRIS melancarkan serangan urnum, sehingga pasukan KNIL terdesak, kemudian pimpinan KNIL minta berunding untuk mengakhiri pertempuran. Permintaan ita ditolak oleh Komandan ‑ Komando Militer kota Letkol Suharto dengan mengajukan dua alternatif meninggalkan Makasar atau dihancurkan sama sekali. KNIL yang sudah dalam keadaan sangat terdesak akhirnya menerima tuntutan tersebut. Kemudian pada tanggal 8 Agustus 1950 diadakan perundingan antara Kolonel Kawilarang dengan Mayor Jendral Schaffelaer. Hasil perundingan adalah bahwa Belanda bersedia menyerahkan senjata dan meninggalkan Makasar tanpa senjata. Dengan demikian tanggal 8 Agustus 1950 pemberontakan Andi Azis dapat diselesaikan, kemudian disusul dengan penarikan seluruh pasukan KNIL/KL dari Makasar tanpa senjata pada akhir bulan Agustus 1950.


Tahun 1958 Andi Aziz dibebaskan tetapi tidak pernah kembali ke Sulawesi Selatan sampai masa orde baru. Sekitar tahun 1970-an ia kembali ke Sulawesi Selatan sebanyak 4 kali dan terakhir pada tahun 1983. Setelah keluar dari tahanan ia terjun ke dunia bisnis dan bergabung bersama Soedarpo Sastrosatomo di perusahaan pelayaran Samudra Indonesia hingga akhir hayatnya. Andi Abdoel Aziz meninggal pada 30 Januari 1984 di Rumah Sakit Husada Jakarta akibat serangan jantung dengan umur 61 tahun. Ia meninggalkan seorang Istri dan tidak ada anak kandung. Jenasahnya diterbangkan dan dimakamkan di pemakaman keluarga Andi Djuanna Daeng Maliungan di desa Tuwung kabupaten Barru, Sulawesi Selatan. Turut hadir sewaktu melayat di rumah duka yaitu mantan Presiden RI, BJ. Habibie beserta Istri, Mantan Wakil Presiden RI, Try Sutrisno dan perwira perwira TNI lainnya.


Sebelum meninggalnya, ia pernah beberapa kali ia diminta aktif kembali ke dinas militer TNI oleh Presiden Soekarno dan diminta untuk membentuk pasukan pengaman Presiden yaitu Cakrabirawa. Tetapi atas nasehat orang tua dan juga saudara saudaranya maka ia menolak ajakan Presiden Soekarno tersebut. Pihak keluarga merasa bahwa Andi Aziz adalah seoarang buta politik yang sudah cukup merasakan akibatnya. Pihak keluarga tidak menginginkan hal tersebut terjadi untuk kedua kalinya. Beryuskur karena Andi Aziz menolak ajakan tersebut, ternyata pasukan Cakrabirawa ini jugalah yang di kemudian harinya terlibat membantu pemberontakan Gerakan 30 September Partai Komunis Indonesia.