Selasa, 08 September 2009

Tokoh Keroncong

Waldjinah

Waldjinah (lahir di
Solo, Jawa Tengah, 7 November 1945; umur 63 tahun) adalah seorang penyanyi keroncong - Jawa yang dikenal dengan julukan "Ratu keroncong", dan menjadi juara I Bintang Radio Indonesia tahun 1965. Di antara albumnya, Waldjinah pernah berduet dengan si "Buaya Keroncong" dari kota Surabaya yaitu cak Mus Mulyadi. Lagu Walang Kekek adalah yang melambungkan namanya di Indonesia disamping juga lagu Jangkrik Genggong. Walang Kekek diputar di radio-radio dan dinyanyikan orang dimana-mana. Suaranya yang dikenal merdu dan sering melantunkan lagu-lagu ciptaan Gesang, Andjar Ani, dan Ismail Marzuki.
Dalam beberapa kesempatan, perempuan yang kerap tampil sebagai sinden mendampingi cerita wayang itu, membawakan lagu ciptaan Gesang dan Ismail Marzuki. Dan tercatat pernah berduet dengan Chrisye (alm) lewat lagu ciptaan Guruh Soekarno Putra lewat lagu Kala Cinta Menggoda.
Banyak diantara albumnya dibuat dengan iringan Orkes Keroncong Bintang Surakarta yang dipimpinnya sendiri. Waldjinah juga tidak selalu membuat album sendiri, tapi pernah juga membuat album "kompilasi" bersama penyanyi lain, misalnya album Elingo Beboyo Margo (sekitar 1968) yang diisi bersama Enny Koesrini (juara Harapan Bintang Radio Indonesia 1967) dan Sri Rahadjeng.
Di Tahun 2002 Waldjinah menerima anugrah seni dari yayasan musik
Hanjaringrat di Solo dengan komponis Gesang dan para seniman yang lainnya.
Lagu populer Waldjinah di antaranya Yen Ing Tawang, Bengawan Solo, Walang Kekek, Ande-Ande lumut, Rudjak Ulek, Suwe Ora Jamu dan lain sebagainya
Karena dilahirkan di bulan Sawal (Wal) pada tahun Je (Ji) dan sebagai anak nomor sejinah (10) maka diberikanlah kepadanya nama Waljinah. Memang belum tua, meskipun sehari-hari memakai kebaya. Kata orang, dia telah melancarkan semacam revolusi keroncong secara resmi. Mengangkat apa yang biasanya ngubek dalam suara gamelan ke dalam kancah keroncong. “kalau digending,”tuturnya, “Penyanyi Kembang Kacang harus mengikuti betul aturannya. Rasanya kaku. Beda bila di keroncong. Penyanyi bisa menggarapnya dengan luwes, cengkoknya pun bisa mapan”.” lagunya yang terkenal adalah Walang Kekek, dinyanyikan secara menyesuaikan diri dengan kegemaran masyarakat tanpa mengurangi mutunya. Kini ia memimpin orkes keroncong langgam Jawa Bintang Surakarta dan band Mustang.
Pernah jadi juara Ratu Kembang Kacang di tahun 1958 dan Bintang Radio se-Indonesia jenis keroncong tahun 1965. Namanya melambung sampai ke Suriname di tahun 1972. Bahkan di Suriname ia sempat melatih. Waldjinah rupanya lebih menyukai keroncong tanpa alat-alat listrik. Terakhir dia bermain di panggung ketoprak sejak 1978.
Ketrampilan menari tidak dituntut dalam seni ketoprak, walaupun ia pintar menari sejak kecil, atas bimbingan almarhum ayahnya Wiryoharjo. Di juluki si Walang kekek, kadang ia menyanyi dangdut juga, kadang menyanyi dalam bahasa Sunda. Rekaman terakhirnya antara lain Warung Pojok, Gethuk Lindri, Othok-othok Unine Tekek, Tukang Pijet dan Tetanen.
Ia telah menyanyikan ratusan lagu, selama lebih dari 20 tahun sebagai penyanyi. Dan pernah pula beroleh kesempatan bermain dalam film Buah Bibir di tahun 1972. Tapi dunia film tidak berhasil memikat dirinya. Di Surakarta ia punya kesibukan lainnya yakni mengusahakan salon kecantikan dan rias pengantin. Dia mengatakan hanya minum beras kencur secara ajeg untuk memelihara kejernihan suaranya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar